Home Kabar24 Dinyatakan Tidak Bersalah Tjandra Limanjaya dan Irnawati Sutanto adalah Korban

Dinyatakan Tidak Bersalah Tjandra Limanjaya dan Irnawati Sutanto adalah Korban

by admin
0 comment

Pasangan suami-istri Tjandra Limanjaya dan Irnawati Sutanto dinyatakan tidak bersalah dalam upaya tindak pidana pemalsuan atau pencuaian uang. Status keduanya dapat dikatakan sebagai korban, hal tersebut berdasarkan Putusan Peninjauan Kembali Mahkamah Agung tahun 2015.

Kasus Bank Garansi Palsu  mulai muncul ketika ketika Tjandra Limanjaya akan melakukan pengembangan pembangkit listrik yang melibatkan Morgan Stanley dan Omega Consultan & Management.

Baik Tjandra Limanjaya maupun Irnawati Sutanto adalah korban dari oknum Omega Consultant & Management, yang mengaku mampu menerbitkan Bank Garansi. Berikut kronologi dan detail kasus tersebut.

Tjandra Limanjaya Korban Penipuan Kasus Bank Garansi Palsu

Kasus Bank Garansi palsu muncul ketika Tjandra Limanjaya berencana mengembangkan proyek pembangkit listrik di Bali di tahun 2007. Saat itu Omega Consultant & Management yang terdiri dari Tony P. Ridwan dan Nocholas Koen mengaku sebagai konsultan yang berkompetensi di bidang perbankan.

Mereka mengaku pernah menjadi banker HSBC dan pandai dalam capital market serta memiliki koneksi yang luas dalam dunia perbankan di Indonesia. Tony P. Ridwan berusaha menghubungi Tjandra Limanjaya dalam sebuah pesta kecil yang diadakan oleh Fortune Channel nvestment Ltd. Namun usaha tersebut gagal dilakukan.

Tonya P. Ridwan kemudian menghubungi Abdul Djalil selaku Direktur PT General Energy Bali. Omega Consultan & Management meyakinkan Abdul Djalil terhadap kompetensinya sebagai Financial Advisor di PT General Energy Bali yang sedang mengembangkan proyek pembangkit listrik di Bali.

Tawaran dari Omega Consultant & Management tersebut guna menyelesaikan jaminan Bank Garansi yang diajukan Morgan Stanley atas pendanaan awal sebesar USD 50 juta atau 10% dari total keseluruhan pembiayaan yakni USD 500 juta untuk proyek pembangkit listrik di Bali.

Omega Consultant & Management mengaku siap menerbitkan Bank Garansi sebagai jamianan tambahan untuk pendanaan proyek pambangkit listrik oleh Tjandra Limanjaya dalam waktu cepat sesuai waktu yang diberikan Morgan Stanley.

Abdul Djalil lalu menerima penawaran dari Omega Consultant & Management berupa jasa pengadaan pembiayaan termasuk penerbitan Bank Garansi. Pihak Omega Consultant & Management akan mendapatkan pembayaran sebesar Rp 1.290.000.000 sebagai jasa Financial Advisor dari PT General Energy Bali.

Dalam proses penerbitan Bank Garansi, Tony P. Ridwan sempat memperkenalkan seseorang bernama Sulastri yang mengaku sebagai Manajer Bank Mandiri ke Abdul Djalil dan Irnawati Sutanto. Pertemuan itu dilakukan Hotel Pan Pacific Thamrin.

Sebelumnya Tony P. Ridwan juga pernah mengajak Abdul Djalil dan Irnawati Sutanto ke kantor Bank Mandiri Thamrin lantai 3 dan mengenalkannya dengan Manajer lainnya bernama Halim.

Mei 2009 Abdul Djalil mulai curiga terhadap kredibilitas Omega Consultant & Management. Ini karena Tony P. Ridwan dan Nocholas Koen tidak dapat dihubungi dan tidak dapat dimintai penjelasan perihal Bank Garansi.

Juni 2009 pihak Omega Consultant & Management menyerahkan surat No. 07/Omega/TP/GEB/VI/2009 tertanggal 12 Juni 2009 kepada PT General Energy bali yang berisi sebagai berikut :

Dalam setiap Penerbitan Instrumen Bank Guarantee (BG), baik melalui HSBC dan Bank Mandiri Tbk, kami selalu melaksanakannya sesuai dengan prosedur perbankan yang berlaku dan dalam pengawasan kami secara langsung”

Jadi Omega Consultant & Management melakukan semua proses dan prosedur penerbitan Bank Garansi tanpa melibatkan PT General Energy Bali (Abdul Djalil), Tjandra Limanjaya, maupun Irnawati Sutanto, dan sesuai dengan peraturan dan perundang-udangan yang berlaku.

Meskipun sudah ada surat penjelasan dari Omega Consultant & Management tetapi Abdul Djalil masih belum yakin. Akhirnya Abdul Djalil menghubungi Hotman Paris Hutapea yang merupakan penasihat hukum PT General Energy Bali pada bulan Juli 2009.

Salah satunya yang dilakukan adalah dengan mengecek nomor telepon yang tertera di kop surat Bank Garansi Mandiri yang diterbitkan Omega Consultant & Management. Ternyata nomor telepon tersebut merupakan nomor wartel yang berlokasi di bangunan kantor Bank Mandiri Thamrin Jl. Kebon Sirih Jakarta.

Setelah itu, Hotman Paris Hutapea memberikan advis kepada Abdul Djalil untuk melakukan pelaporan polisi terhadap Tony P. Ridwan dan Nicholas Koen atas dugaan tindakan penipuan dan pemalsuan Bank Garansi PT General Energy Bali, dengan Laporan Polisi Metro Jaya No. 2207/K/VII/2009 tertanggal 2009.

Kasus tersebut masuk ke pengadilan dan menyatakan bahwa Nicholas Koen diinyatakan bersaah melakukan tindak pidana pembuatan Bank Garansi palsu dan penipuan berdasarkan Putusan PN Jakarta Pusat No. 1195/Pid.B/2010/PN.Jkt.Pst tertanggal 5 Oktober 2010 dan dikuatkan dengan Putusan PT DKI Jakarta No. 375/Pid/2010/PT.DKI tertanggal 7 Desember 2010.

Sedangkan Tony P. Ridwan dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembuatan Bank Garansi palsu secara bersama-sama berdasarkan Putusan PN Jakarta Pusat No. 325/Pid.B/2011/PN.Jkt/Pst tertanggal 16 Agustus 2011.

Tony P. Ridwan juga sebelumnya pernah terlibat dalam kasus Bank Garansi Mandiri palsu dan dinyatakan sebagai DPO dalam Perkara Tindak Pidana Khusus No. BP/57/2007/Dit.Reskrimsus a/n Mirta sasmita Atmawidjaja SE.

You may also like

Leave a Comment