Home » Lika-Liku Perjalanan Moeldoko Muda Hingga di Angkat Menjadi KSP

Lika-Liku Perjalanan Moeldoko Muda Hingga di Angkat Menjadi KSP

by admin
0 comment

Kerasnya kehidupan yang dilakoni Moeldoko saat masih muda membuat dirinya menjadi pemimpin yang kapabel serta dekat dengan rakyat .

Keberhasilan pemerintahan Joko Widodo-Jususf Kalla tak bisa dilepaskan dari peran sentral yang dilakukan oleh mantan Panglima TNI  Jendral (Purn) TNI Moeldoko. Meskipun baru setahun menjabat sebagai kepala staff kepresidenan Januari 2018 lalu menggantikan Teten Masduki, Moeldoko dinilai mampu mengambil langkah gemilang untuk turut membantu mensukseskan pemerintakan Jokowi-JK.

Dulunya, Moeldoko Adalah sosok yang identik dengan pengabdianya di TNI Angkatan Darat. Puncak kariernya di TNI AD adalah ketika ia Menjabat sebagai Kepala Staff TNI AD pada 20 Mei hingga 30 Agustus 2013. selanjutnya, Presiden keenam RI Soesilo Bambang Yudhyono menunjuknya untuk menjabat sebagai Panglima TNI.

Moeldoko juga memiliki masa lalu yang menarik, ia tidak terlahir dalam keluarga yang berada, kerasnya kehidupan yang dijalaninya membuat moeldoko menjadi manusia unggul dan tangguh. Berikut kami ulas riwayat kehidupan Moeldoko muda hingga menjabat sebagai KSP

Moeldoko lahir di desa Pesing kecamatan Purwosari Kabupaten Kediri. Ia merupakan putra bungsu dari 12 bersaudara  dari pasangan Moestaman dan Masfuah. Sejak kecil ia sudah melakoni hidup susah dan bekerja keras untuk membantu keluarga. Ia juga sempat merasakan pekerjaan kasar seperti mengambil pasir dan batu di pingggri kali. Semua pekerjaan itu ia lakukan seusai pulang dari sekolah.

Ayah Moeldoko yang kala itu menjabat sebagai pemangku keamanan di desa memiliki prinsip bahwa setiap anak-anaknya harus memiliki pendidikan yang tinggi. Selepas mengenyam pendidikan sekolah dasar di SD Negeri Juntok 1, Moeldoko melanjutkan jenjang pendidikanya di SMP Negeri Papar, Kediri kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Pertama Pertanian (SMPP) di Jombang. Selama di Jombang Moeldoko hidup bersama dengan kakak sulungnya Sujak.

Kepala staff Kepresiden Moeldoko berfoto bersama Mensos Idrus Marham, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan serta mantan Kepala Staff Kepresidenan Teten Marzuki. (Setkab.go.id)

Usai menamatkan pendidikanya di sekolah menengah atas, Moeldoko mendaftar di Akademi Militer (Akmil) Magelang pada tahun 1977. Selama di Akmil, Moeldoko termasuk siswa yang cemerlang, terbukti tatkala ia menamatkan pendidikanya di Akmil pada tahun 1981 Moeldoko meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa.

Moeldoko  mengawali kariernya  di TNI AD sebagai Komandan Pleton 1A Yonif Linud 700/BS Kodam VII Wirabuana. Ia juga pernah terjun dalam berbagai operasi militer seperti, Operasi Timor-Timur tahun 1984 dan Konga Garuda XI/A pada tahun 1995.

Selain itu, Moeldoko juga pernah mendapatkan penugasan diluar negeri, diantaranya, Selandia Baru (1983 dan 1987) singapura dan Jepang (1991), Irak-Kuwait (1992), Amerika Serikat hingga Kanada.

Selama perjalana Kariernya tercatat ada Sembilan penghargaan yang pernah diraihnya dari Pemerintah Indonesia, Polri, hingga PBB. Ia acap kali menjadi pemimpin ditengah perjalanan kariernya, seperti menjadi Pangdam Tanjungpura dan Siliwangi sebelum akhirnya menjabat sebagai Kepala Staff TNI Angkatan Darat  (KSAD). Ia ditunjuk oleh SBY menjadi KSAD menggantikan Laksamana (TNI) Agus Suhartono, dan mejadi KSAD tersingkat sepanjang sejarah karena hanya menjabat selama tiga bulan.

Tatkala Jokowi menjabat sebagai Presiden, Suami dari Koesni Harningsih ini masih dipercaya sebagai Panglima TNI hingga dia purna tugas pada 8 juli 2015. Selepas itu Presiden Jokowi menunjuk Jendral Gatot Nurmantyo untuk menggantikanya Menjadi Panglima TNI.

Selepas purna dari menjabat sebagai Panglima TNI, Jendral (Purn) TNI Moeldoko memilih untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk dunia politik. Lalu pada desmber 2016, Moeldoko mulai melangkahkan kaki untuk terjun dalam dunia politk praktis lewat Partai Hanura, Ia ditunjuk langsung oleh Ketua Partai Hanura Oesman Sapta Odang sebagai Wakil Ketua Dewan Partai Hanura mendampingi Wiranto.

Empat bulan Berselang, moeldoko terpilih menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Usai menjabat sebagai Ketua Umum HKTI, ayah dari Randy Bimantoro dan Joanina Rachma inipun kerap tampil dipublik. Puncaknya tatkala Moeldoko di dapuk oleh presiden Joko Widodo untuk menjadi perwakilan keluarga Jokowi untuk menyampaikan sambutan dalam acara resepsi pernikahan Kahiyang Ayu-Bobby Nasution pada 9 November 2017.


Dua bulan selanjutnya, mantan Panglima TNI Jendral (Purn) TNI Moeldoko ditunjuk oleh Jokowi untuk menjadi Kepala Staff Kepresidenan (KSP) ketiga sepanjang pemerintahan Jokowi-JK. Presiden Jokowi Melantik Moeldoko bebarengan dengan Idrus Marham sebagai Menteri sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa serta Agum Gumelar sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Selain itu, Presiden juga melantik Marsekal Madya (Marsdya) Yuyu Sutisna sebagai Kepala Staff Angkatan Udara (KASAU).

Dimasa pemilu serentak yang baru saja digelar pada 17 April 2019 lalu, Moeldoko ditunjuk sebagai Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf. Disini Moeldoko menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemimpin yang cakap. Ia kerap kali menepis berbagai tuduhan negatif yang dilontarkan kepada calon presiden petahana, Jokowi.

Ditengah kariernya yang cemerlang, Moeldoko juga tidak pernah absen untuk terjun dalam berbagai aktfitas sosial. Semasa aktif menjabat sebagai Panglima TNI, Moeldoko sempat mendirikan Masjid Megah yang kemudian dianamainya dengan Masjid Dr.H. Moeldoko. Masjid ini berdiri dikawasan Islamic Center yang terletak di perbatasan kota Jombang dan Kediri. Dalam masjid tersebut juga dilengkapi berbagai fasilitas pendidikan dan sosial seperti panti asuhan, madrasah, gedung TKA Dharma Wanita, Taman Pendidikan Al Qur’an.

Disisi lain, Jendral Purnawirawan TNI  ini juga mendirikan yayasan yang dinamainya dengan M Foundation yang berfokus pada kegiatan sosial dalam hal memberikan bantuan pendidikan kepada anak-anak yatim hingga jenjang perguruan tinggi. Untuk mendapatkan bantuan pemdidikan tersebut, setiap siswa harus diseleksi dan dievaluasi prestasi belajarnya secara berkala.

Moeldoko memiliki keinginan agar anak-anak yang di dibantu M Foundation ini kelak menjadi  manusia yang unggul serta memiliki nilai kemanusian dan religiusitas yang baik.

You may also like

Leave a Comment