Home » Kematian Akibat Bakteri Resiten Terhadap Antibiotik Akan Melonjak Tinggi Pada 2050.

Kematian Akibat Bakteri Resiten Terhadap Antibiotik Akan Melonjak Tinggi Pada 2050.

by admin
0 comment

Sudah banyak kasus kematian pasien yang terjadi karena mengalami resitensi terhadap antibiotik

Belakangan ini, penggunaan antibiotik yang tidak tepat sasaran menyebabkan tingkat resitensi bakteri terhadap antibiotik semakin mengkawatirkan. Pada 2050 mendatang di perkirakan jumlah pasien yang meninggal karena infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik akan melebihi kematian yang disebabkan karena kanker . Hal tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal Yayasan Infeksi Turki Prof Serhat Ünal pada acara pembukaan Program Pendidikan Infeksi Rumah Sakit 2019 di Turki.

Menurut prof Serhat, infeksi bakteri yang didapat dirumah sakit dapat menimbulkan masalah yang serius bagi manusia apabila bakteri yang menginfeksi didalam tubuh sudah resisten terhadap antibakteri.

Resistensi antibiotik (Haloapoteker.id)

Pasien yang dirawat di rumah sakit karena cedera ringan bisa saja mengalamai nasib naas karena bakteri yang sudah resisten terhadap antibiotik tersebut.  Lebih dalam lagi prof Serhat memaparkan, seperti dikutip Daily Sabah, Senin (29/4/2019), kita bisa saja kehilangan pasien yang dirawat di rumah sakit untuk operasi sederhana lantaran infeksi bakteri yang tidak terkendali dan tidak dapat diobati. “Di balik itu terdapat masalah besar tentang resistensi Antibakteri,”ujarnya.

Selanjutnya Prof Serhat menambahkan, salah satu langkah yang paling efisien dalam mengatasi resistensi antibiotik adalah dengan mengendalikan infeksi bakteri. Ia mencatat, seluruh tenaga medis di rumah sakit baik dokter, Apoteker ataupun perawat harus bekerja sebagai tim untuk memerangi kasus ini.


Penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan menyebabkan bakteri mengembangkan kemampuan untuk bertahan hidup dari serangan antibiotik. Resistensi ini bahkan dapat terjadi pada antibiotik generasi terbaru yang dikembangkan untuk membunuh bakteri tersebut.

Pada tahun 2018 lalu, Jaringan Pengawasan Resistensi Antimikroba merilis hasil riset yang mereka lakukan, sedikitnya 33 ribu pasien meninggal dunia setiap tahunya di Uni Eropa serta Wilayah Ekonomi Eropa (UE/EEA) lantaran infeksi bakteri dan mengalami resistensi terhadap antibiotik.

Hasil penelitian tersebut juga menyatakan, bahwa infeksi bakteri dengan resitensi terhadap antibiotik memiliki beban yang lebih substansial apabila dibandingkan dengan penyakit menular lainya dan telah mengalami peningkatan yang sangat signifikans sejak 2007.

Selanjutnya, untuk mencegah dan mengendalikan infeksi bakteri yang kebal terhadap antiobiotik diperlukan koordinasi di tingkatan UE/EEA serta dunia. Akan tetapi, menurut hasil penelitian tersebut, tingkat resistensi bakteri terhadap antibiotik memiliki variasi yang berbeda disetiap Negara, sehingga setiap Negara harus memformulasikan langkah yang tepat untuk mencegah bahaya resistensi antibiotik.

You may also like

Leave a Comment