Pernyataan Moeldoko Soal Hoax Petugas KPPS Diracun

KSP Moeldoko angkat memberi klarifikasi soal isu KPPS yang meninggal akibat diracun.

Berkaitan isu yang beredar soal kematian petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal akibat diracun, Kepala Staf Presiden Moeldoko menegaskan jika tidak ada petugas KPPS yang meninggal secara tidak wajar. Moeldoko juga menghimbau agar masyarakat tidak terpancing dengan berita hoax petugas KPPS diracun tersebut.

Berbagai Tanggapan Soal Hoax Petugas KPPS Diracun


“Bahwa tidak ada kematian yang seperti diberitakan. Ada kematian yang tidak wajar yang dicurigai ada racun, tetekbengek, Ini sebuah pernyataan yang sesat,” kata Moeldoko, dilansir dari Detik News, Selasa, (14/05/19).

Moeldoko menegaskan jika berita KPPS yang meninggal diracun adalah hoax yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kematian para petugas KPPS sebenarnya dapat dibuktikan melalui riwayat medisnya. Moeldoko beranggapan berita tersebut hanya akan semakin memperkeruh keadaan pasca pemilu.

Perlu diketahui, sampai saat ini tercatat 469 petugas KPPS dilaporkan meninggal dunia, dengan 4.602 petugas KPPS yang sakit. Sehingga total petugas yang sakit dan meninggal dunia adalah 5.071 orang.

Berkaitan dengan hal tersebut, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menyatakan pihaknya telah melakukan audit terkait banyaknya petugas KPPS yang meninggal. Kemudian dapat diketahui data berkaitan profil petugas KPPS, sehingga dapat diketahui penyebab kematiannya.

Nila menyatakan jika  kematian yang terjadi di rumah sakit sebesar 39%. Data tersebut diperolehnya setelah melakukan audit dari 25 provinsi di Indonesia. Jumlah kematian terbanyak ada pada wilayah di Jakarta dan Banten.

Petugas KPPS (voanews.com)

“Kemudian kematian ini dari kelompok umur kita bisa melihat sebesar 54% berusia di atas 50 tahun, bahkan mencapai usia 79 tahun. Jadi memang artinya yang meninggal kebanyakan pada usia yang tua, maupun ada usia yang muda,” ungkap Nila.

terdapat berbagai faktor penyebab kematian petugas KPPS. Penyebab medis dari meninggalnya petugas paling banyak adalah karena penyakit jantung, stroke, dan hipertensi.

Sehingga menurut Nila, soal desakan autopsi terhadap petugas KPPS yang meninggal, tidak perlu repot-repot dilakukan jika sudah mengetahui riwayat medis dari para petugasnya. Namun jika ada permintaan dari pihak keluarga atau Polri untuk melakukan autopsi maka timnya akan segera bergerak. Hingga sampai saat ini belum ada permintaan autopsi dari pihak keluarga ataupun Polri.

[artikel number=3 tag=”moeldoko, kpps, pemilu, ksp”]

Kematian dari para petugas KPPS memang PR bagi pelaksana pemilu kedepannya. Menurut Moeldoko, tenaga KPPS ke depannya sebelum menjalankan tugas harus melalui prosedur cek kesehatan, pemerintah juga telah menerima tragedi tersebut untuk perbaikan ke depannya. 

“Sekarang ini sepertinya cek kesehatannya masih belum baik sehingga seolah-olah, bukan seolah-olah, hanya pernyataan dari puskesmas. Pernyataan yang bersifat dinyatakan sehat. Kalau penyakitnya penyakit dalam kan puskesmas tidak bisa melihat. Nanti ke depan perlu dipikirkan ada recovery yang semakin baik ya,” ujarnya.  Hoax petugas KPPS diracun sebainya tidak dipolitisasikan untuk mengangkat isu baru. Marilah kita menganggap hal tersebut sebagai tragedi dan pembelajaran demokrasi di Indonesia ke depannya agar lebih baik lagi.